Hal yang disebut dengan kegagalan itu sudahlah pasti akan terjadi dalam kehidupan kita. Karena kalau kata salah satu brand keripik yang selalu nempel di benak mimin "Life is Never Flat". Hal tersebut tentu saja juga bisa terjadi dalam bisnismu.
Apa saja sih risiko kegagalan yang bisa kamu persiapkan agar jauh lebih cepat dalam mengatasinya?
Kita intip hasil analisis CBInsight dalam 101 Startup Postmorterms, terdapat 20 alasan kegagalan startup pada urutan tiga teratas adalah:
1.Pasar tidak Membutuhkannya (42%)
Penyebab utama yang paling tinggi dari kegagalan sebuah startup adalah kurang mampu menghasilkan solusi yang dibutuhkan oleh pasar. Pada akhirnya kesulitan untuk mencapai tahap product/market fit.
Berbeda halnya dengan Gojek misalnya, sebuah platform transportasi online yang membantu kebutuhan pasar serta supplynya. Dalam hal ini pangsa pasar Gojek yang membutuhkan kemudahan dalam memesan transportasi merasa terbantukan dengan adanya Gojek. Sedangkan dari sisi supply sang driver juga mendapatkan bantuan untuk mencari lahan rezeki.
2. Kehabisan uang (29%)
Kehabisan uang merupakan penyebab krusial. Banyak startup kurang mampu mengumpulkan dana tambahan selama produk masih divalidasi, akibatnya startup akan sulit menjalankan aktivitasnya.
Seperti halnya kamu bila menginginkan untuk membeli suatu barang, tetapi kehabisan uang. Hal tersebut tentunya akan membuatmu tidak jadi membeli karena tidak ada uang. Tentu bisnismu juga akan bernasib sama bila kamu tidak mempelajari mencari pendanaan serta mengelola keuangannya secara efektif.
3. Kurang kokoh dalam fondasi tim (23%)
Masalah di dalam tim merupakan konflik internal seperti ketidakcocokan karakter satu sama lain, misi membangun startup yang kurang sejalan atau kurangnya komitmen. Selain itu juga disebabkan oleh kurangnya knowledge/skill individu di dalam tim atau pemetaan kemampuan tim yang kurang baik.
Tim adalah kunci di balik layar kesuksean semua startup. Apabila kamu meras bahwa ada ketidakcocokan di dalam timmu baik itu secara visi atau misi dan hal lainnya kamu lebih baik mengevaluasi timmu terlebih dahulu.
Kamu juga bisa menggunakan tools RICH analyssis dimana kamu akan bisa mengetahui karakter dan kecocokan mereka dengan pekerjaannya.
Nah dari ketiga risiko kegagalan ini bisa kamu minimalisir dengan mempelajari kasus-kasus yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Hal ini bisa menjadi bahan pertimbangan kamu agar melakukan tindakan preventif serta mempersiapkan planning kuratif nya bila memang sudah terjadi.
Semangat terus, semangat belajar!

Comments
Post a Comment